Ibis Hawaii Hilang Penglihatan Karena Beradaptasi dengan Ceruk Gelap

0
9

Sebuah penelitian yang baru-baru ini diterbitkan mengungkapkan bahwa ibis Hawaii yang telah punah, Apteribis, memiliki mata yang sangat kecil dan penglihatan yang terbatas, sehingga menunjukkan bahwa mereka sebagian besar menjalani gaya hidup di malam hari. Para peneliti dari Universitas Lethbridge, Universitas Flinders, dan Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian menemukan hal ini melalui analisis rinci terhadap fosil tengkorak dan perbandingannya dengan spesies ibis modern. Temuan yang diterbitkan dalam Integrative and Comparative Biology ini menjelaskan bagaimana evolusi pulau dapat mendorong adaptasi unik, dan seberapa banyak keanekaragaman hayati yang telah hilang sebelum ilmu pengetahuan dapat mendokumentasikannya sepenuhnya.

Evolusi Nokturnalitas pada Spesies Pulau

Ekosistem pulau sering kali menghasilkan spesies khusus yang jarang terlihat di tempat lain. Apteribis tampaknya mengikuti jalur evolusi serupa dengan kiwi Selandia Baru, menjadi tidak bisa terbang dan mengandalkan isyarat sentuhan dari paruhnya untuk mendeteksi mangsa dalam kegelapan. Adaptasi ini sangat mencolok mengingat ibis biasanya merupakan burung diurnal dengan penglihatan yang sangat berkembang.

“Kepulauan Hawaii menyediakan tempat yang ideal untuk evolusi ekstrem tersebut,” jelas Dr. Andrew Iwaniuk dari Universitas Lethbridge. “Kurangnya predator mamalia berarti hanya ada sedikit tekanan selektif untuk mempertahankan penerbangan yang kuat atau penglihatan yang tajam.”

Bagaimana Apteribis Memberi Makan dalam Gelap

Studi ini menemukan bahwa jejak sistem visual pada tengkorak Apteribis berkurang drastis dibandingkan dengan kerabat ibis yang masih hidup. Orbit, tempat mata berada, lebih kecil dari yang diharapkan, dan saraf optik serta struktur otak yang bertanggung jawab untuk memproses cahaya belum berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa burung tersebut kemungkinan besar mencari makan di malam hari, mencari mangsa di lumpur atau tanah lunak menggunakan paruhnya yang panjang dan sensitif.

Menurut Dr. Helen James, kurator di Smithsonian, “Kepulauan Hawaii pernah menjadi rumah bagi banyak invertebrata nokturnal, termasuk siput dan jangkrik yang tidak dapat terbang, yang kemungkinan besar mendorong Apteribis untuk mengadopsi strategi mencari makan di malam hari.”

Peran Ekologis yang Hilang

Pengurangan ekstrim dalam penglihatan pada Apteribis sebanding dengan adaptasi yang terlihat pada burung nokturnal lainnya seperti burung nuri malam Australia serta kiwi dan kakapo Selandia Baru. Burung ibis Hawaii menunjukkan bahwa jalur evolusi tersebut dapat terjadi secara independen di berbagai ekosistem pulau.

“Ibis yang punah ini menunjukkan bahwa bentuk serupa berevolusi di tempat lain, mengingatkan kita betapa banyak keanekaragaman yang telah hilang, dan berapa banyak peran ekologis yang hilang, sebelum kita sempat mempelajarinya,” tambah Dr. Iwaniuk. Kepunahan Apteribis, yang kemungkinan disebabkan oleh perubahan iklim dan kolonisasi manusia, menunjukkan hilangnya keanekaragaman hayati yang unik secara signifikan.

Penelitian ini menggarisbawahi kerapuhan ekosistem pulau dan pentingnya mempelajari spesies yang punah untuk memahami sepenuhnya proses evolusi.

Попередня статтяPendarat Bulan Soviet Luna 9 yang Hilang: Kemungkinan Penemuan Setelah 58 Tahun
Наступна статтяTerumbu Karang Karibia Menghadapi Rantai Makanan yang Lebih Pendek Karena Hilangnya Habitat dan Penangkapan Ikan Berlebihan