Komet yang baru ditemukan, C/2025 K1 (ATLAS), telah diamati pecah dengan sangat detail berkat teleskop canggih di Hawaii dan Italia. Gambar resolusi tinggi menunjukkan komet tersebut terfragmentasi menjadi beberapa bagian di bawah pengaruh gravitasi dan radiasi matahari yang kuat. Peristiwa ini memberikan gambaran sekilas tentang sifat rapuh komet berperiode panjang dan kekuatan dinamis yang berperan di tata surya kita.
Kematian Komet Terekam Kamera
Disintegrasi C/2025 K1 (ATLAS) pertama kali diketahui pada akhir tahun 2024, dengan pengamatan dari teleskop Gemini North di Hawaii dan teleskop berbasis darat di Italia mengkonfirmasi perpecahannya. Gambar yang diambil pada tanggal 11 November dan 6 Desember menunjukkan fragmen berbeda yang terpisah dari inti komet, terpisah oleh gravitasi matahari dan aliran partikel konstan yang dipancarkan matahari – yang dikenal sebagai angin matahari.
Astronom Gianluca Masi dari Proyek Teleskop Virtual di Italia mengidentifikasi setidaknya tiga fragmen besar, dan kemungkinan yang keempat, pada awal November. Pengamatan dari Observatorium Asiago di Italia semakin menguatkan fragmentasi tersebut, menunjukkan dua bagian berjarak sekitar 1.200 mil.
Asal dan Maknanya
C/2025 K1 (ATLAS) ditemukan pada Mei 2024 menggunakan Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System, sebuah jaringan yang dirancang untuk mengidentifikasi objek yang berpotensi berbahaya. Komet tersebut diyakini berasal dari Awan Oort – reservoir besar benda es yang terletak jauh di luar orbit Neptunus.
Komet berperiode panjang ini, tidak seperti komet yang lebih sering berkunjung (seperti Komet Halley), dianggap “asli” oleh para astronom. Komet ini telah menghabiskan miliaran tahun di kedalaman ruang angkasa yang sangat dingin, relatif tidak tersentuh oleh pengaruh matahari, sehingga menjadikannya berharga untuk mempelajari komposisi tata surya awal.
Mengapa Ini Penting
Pecahnya C/2025 K1 (ATLAS) bukanlah hal yang aneh; banyak komet hancur saat mendekati matahari. Namun, pengamatan mendetail memberikan wawasan tentang bagaimana benda-benda es ini berperilaku dalam kondisi ekstrem.
- Memahami fragmentasi komet membantu para ilmuwan memodelkan evolusi tata surya.
- Hal ini juga menyoroti risiko yang ditimbulkan oleh komet, meskipun komet tersebut tampaknya tidak berada pada jalur tabrakan dengan Bumi.
Bagi para astronom amatir yang ingin menyaksikan peristiwa semacam itu, peralatan astrofotografi modern (teleskop pintar, kamera resolusi tinggi) kini semakin memudahkan dalam menangkap pemandangan komet jauh yang menakjubkan.
Disintegrasi C/2025 K1 (ATLAS) berfungsi sebagai pengingat akan proses dinamis yang membentuk tata surya kita, dan keindahan rapuh dari pengembara es ini.





















