Sepatu Lotus: Sejarah Brutal Pengikatan Kaki di Tiongkok

0
5

Selama lebih dari satu milenium, praktik yang dikenal sebagai pengikatan kaki—atau chanzu dalam bahasa Tiongkok—membentuk kehidupan perempuan di dinasti Tiongkok. Itu bukan sekedar kebiasaan; itu adalah deformasi tubuh yang disengaja dan menyakitkan yang dimaksudkan untuk membuat kaki dianggap indah menurut standar budaya yang ketat. Bukti tertua yang masih ada mengenai tradisi ini, berupa sepatu sutra dan katun kecil yang disebut “sepatu teratai”, berasal dari abad ke-13, meskipun praktik tersebut masih bertahan hingga abad ke-20.

Proses Mengikat Kaki yang Menyakitkan

Prosesnya dimulai ketika anak perempuan berusia antara empat dan delapan tahun. Kaki mereka dibalut erat dengan perban, semua jari kaki terlipat kecuali jempol kaki di bawah sol. Hal ini memaksa lengkungan tersebut patah, menyebabkan rasa sakit yang luar biasa seiring dengan patahnya tulang dan pembentukannya kembali seiring berjalannya waktu. Tujuannya adalah untuk mengecilkan kaki menjadi ukuran yang sangat kecil—seringkali panjangnya hanya tiga hingga lima inci.

Latihan ini tidak dilakukan secara acak. Ini memiliki banyak tujuan: sebagai tanda kekayaan (hanya keluarga yang tidak membutuhkan anak perempuan mereka untuk bekerja di ladang yang mampu membelinya), standar kecantikan yang menyimpang, dan cara untuk mengontrol mobilitas perempuan. Seorang perempuan dengan kaki terikat mengalami ketergantungan fisik, sehingga membatasi pergerakannya dan memperkuat ekspektasi masyarakat.

Realita Dibalik Ritual

Kondisinya tidak sehat. Seperti yang dijelaskan oleh seorang wanita kepada NPR, perban ketat membuat kebersihan menjadi tidak mungkin dilakukan. Kaki hanya dicuci setiap dua minggu sekali, sehingga menimbulkan bau yang menyengat dan infeksi. Meski terasa tidak nyaman, sepatu teratai sendiri menjadi simbol status, sering kali dibuat dari bahan halus seperti sutra dan dihiasi sulaman rumit. Contoh yang masih ada termasuk sepatu bot siang hari, sepatu pernikahan yang rumit, dan bahkan kaus kaki khusus untuk tidur.

Penurunan dan Warisan yang Masih Ada

Pada akhir abad ke-19, seruan untuk hak-hak perempuan dan pengakuan atas kekejaman praktik tersebut mulai menghilangkan ikatan kaki. Namun, tradisi ini masih bertahan di beberapa daerah hingga tahun 1949. Bahkan saat ini, beberapa wanita lanjut usia di Tiongkok masih menanggung luka fisik dari tradisi ini. Pabrik terakhir yang memproduksi sepatu teratai ditutup pada tahun 1999, meskipun bengkel-bengkel yang lebih kecil tetap dilanjutkan beberapa waktu setelahnya.

Pengikatan kaki adalah sebuah pengingat akan bagaimana cita-cita budaya dapat menimbulkan kerugian yang mendalam dan berkepanjangan. Sepatu teratai bukan melambangkan keindahan, melainkan simbol kontrol fisik sistematis dan penegakan peran gender yang brutal.

Попередня статтяBintang Sekarat ‘Menetas’ dalam Gambar Hubble Baru yang Menakjubkan
Наступна статтяWakil Direktur CDC Mengundurkan Diri Di Tengah Perombakan Kepemimpinan