Filoplumes: Pahlawan Penerbangan Burung Tanpa Tanda Jasa

0
10

Selama beberapa dekade, para ilmuwan menganggapnya sebagai sisa-sisa evolusi, namun penelitian baru menunjukkan bahwa filoplumes —bulu kecil seperti rambut di dasar bulu terbang—sangat penting bagi kemampuan burung untuk terbang. Struktur yang hampir tak terlihat ini sekarang dianggap penting untuk pemeliharaan bulu dan stabilitas penerbangan.

Sejarah Pengabaian

Kurator Vanya Gregor Rohwer dari Museum Vertebrata Universitas Cornell menunjukkan sifat filoplum yang terabaikan: meskipun dipajang pada sayap paruh sendok berwarna merah jambu, mereka mudah untuk dilewatkan. Selama bertahun-tahun, filoplume dianggap sebagai peninggalan evolusi burung yang “merosot” atau “tidak berguna”. Ini bukanlah hal yang aneh; banyak struktur biologis yang pernah dianggap sebagai peninggalan kemudian mengungkapkan fungsi-fungsi penting.

Cara Kerja Filoplum

Dr Rohwer, bersama ayahnya, Sievert Rohwer, seorang peneliti bulu terkenal, berpendapat bahwa filoplum bertindak sebagai pemantau sensorik untuk posisi bulu. Karena bulu terbang akan aus seiring berjalannya waktu, sensor ini memungkinkan burung menyesuaikan sayapnya untuk mendapatkan aerodinamika yang optimal. Keenam jenis bulu pada tubuh burung terbuat dari keratin—bahan yang sama seperti rambut dan kuku manusia—tetapi filoplum menonjol karena peran sensoriknya yang unik.

Evolusi Berusia 150 Juta Tahun

Filoplum telah berevolusi bersama bulu sejak dinosaurus pertama terbang ke angkasa sekitar 150 juta tahun yang lalu. Keberadaan mereka menggarisbawahi betapa fitur-fitur kecil sekalipun bisa menjadi penting untuk kelangsungan hidup dan adaptasi.

Penemuan kembali pentingnya filoplumes menyoroti sebuah pelajaran penting: dalam biologi, menganggap suatu struktur tidak berguna adalah hal yang terlalu dini. Setiap komponen organisme mungkin berevolusi karena suatu alasan, dan memahami fungsi-fungsi ini adalah kunci untuk mengungkap kompleksitas kehidupan.

Artikulli paraprakJerapah Kosmik: Nebula Menakjubkan Menyerupai Hewan Surgawi
Artikulli tjetërPsikiatri Memasuki Era Digital: Diagnosis Kesehatan Mental Berbasis AI