Kematian Penambang Kuno Mengungkap Realitas Keras dari Ekstraksi Pirus Pra-Inca

0
17

Mumi berusia 1.100 tahun yang baru-baru ini diperiksa ulang dan ditemukan di Chili memberikan bukti nyata tentang kondisi brutal yang dihadapi para penambang kuno. Hasil CT scan terbaru mengkonfirmasi pria tersebut meninggal karena luka parah yang dideritanya akibat runtuhnya tambang berwarna biru kehijauan, memberikan gambaran sekilas tentang profesi berbahaya yang dipraktikkan berabad-abad sebelum standar keselamatan modern ada.

Penemuan dan Temuan Awal

Sisa-sisa mumi yang ditemukan secara alami, awalnya digali pada tahun 1970-an di dekat tambang pra-Hispanik di El Salvador, Chili, pada awalnya menunjukkan adanya patah tulang kaki kiri – yang mungkin merupakan tanda kecelakaan. Namun, analisis komprehensif baru dilakukan pada tahun 2023. Mumi tersebut ditemukan bersama barang-barang kuburan, termasuk busur, anak panah, dan peralatan untuk mengonsumsi obat-obatan halusinogen, yang menunjukkan bahwa pria tersebut kemungkinan besar adalah seorang pekerja penambang yang juga ikut serta dalam ritual atau penggunaan zat untuk tujuan pengobatan.

Trauma Detil dari CT Scan

Arkeolog Catalina Morales dan Francisco Garrido menggunakan pencitraan canggih untuk mengungkap keseluruhan kerusakan yang terjadi. Pria tersebut, diperkirakan berusia antara 25 dan 40 tahun pada saat kematiannya, menderita beberapa patah tulang parah di tulang belakang bagian atas, tulang rusuk, tulang belikat, dan tulang selangka. Kerusakan tersebut menunjukkan adanya benturan benda tumpul yang sangat besar yang terkonsentrasi pada punggung bagian atas, sehingga tulang rusuknya roboh dan tulang belakangnya tergeser. Yang terpenting, tidak ditemukan luka di tengkorak, leher, atau lengannya, yang menunjukkan kemungkinan besar dia dalam posisi berjongkok atau kepala menunduk saat kecelakaan terjadi.

“Kemungkinan besar seorang penambang memasuki tambang dan menggunakan palu batu untuk mengambil pirus dari batu di sekitarnya… Jika terjadi batu runtuh, tidak ada perlindungan apa pun.”

Konteks: Penambangan Pirus di Andes

Kematian ini terjadi pada Periode Menengah Akhir (894–1016 M) di Andes, masa antara jatuhnya Kerajaan Wari dan bangkitnya suku Inca. Penambangan batu pirus adalah praktik yang sudah mapan selama lebih dari 2.000 tahun di Gurun Atacama. Para penambang menggunakan peralatan primitif—palu batu, sekop kayu, dan keranjang—untuk mengekstraksi batu permata tersebut. Manik-manik pirus kemudian diperdagangkan di sepanjang sistem jalan pra-Hispanik yang luas, menjadikan batu tersebut berharga baik untuk perhiasan maupun perdagangan.

Kondisi Berbahaya dan Kurangnya Perlindungan

Berbeda dengan operasi penambangan modern, tambang kuno tidak memiliki langkah-langkah keamanan. Sebagian besar merupakan tambang terbuka yang dangkal, namun tambang El Salvador merupakan pengecualian: tambang tersebut memiliki terowongan bawah tanah. Hal ini berarti para penambang terus-menerus menghadapi ancaman keruntuhan tanpa alat pelindung apa pun. Posisi mumi yang terluka menunjukkan bahwa ia sedang aktif bekerja, bahkan mungkin berusaha melindungi kepalanya, ketika tertimpa batu yang berjatuhan. Jenis traumanya sebanding dengan cedera yang terlihat pada korban konstruksi modern, kehutanan, atau gempa bumi.

Gambaran Lebih Besar

Kasus ini menyoroti kenyataan pahit ekstraksi sumber daya di masyarakat pra-industri. Ini bukan hanya kecelakaan fatal; itu adalah risiko sistemik yang tertanam dalam pendudukan. Fakta bahwa kondisi seperti ini terus berlangsung selama ribuan tahun menggarisbawahi betapa kecilnya nilai yang diberikan pada kehidupan para penambang. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami keseluruhan kondisi kerja mereka, namun mumi ini memberikan potongan teka-teki yang suram namun tak ternilai harganya.

Kematian penambang ini menjadi pengingat yang menyedihkan: bahkan di zaman kuno, perburuan material berharga harus mengorbankan nyawa manusia.

Artikulli paraprakAS Mengabaikan Perjanjian Perubahan Iklim dan Kelompok Internasional dalam Penarikan Secara Luas
Artikulli tjetërStylus Sisilia Kuno Menggambarkan Dionysus dengan Lingga Tegak