Sepertiga Kasus Demensia Terkait dengan Kondisi di Luar Otak

0
11

Tinjauan inovatif terhadap lebih dari 200 penelitian mengungkapkan bahwa sekitar sepertiga dari seluruh kasus demensia di seluruh dunia—hampir 19 juta orang—mungkin terkait dengan penyakit yang berasal di luar sistem saraf pusat. Temuan ini menantang pandangan neurologis tradisional tentang demensia dan menyoroti interaksi penting antara kesehatan perifer dan penurunan kognitif.

Gambaran yang Muncul tentang Akar Demensia

Selama beberapa dekade, demensia terutama dipelajari sebagai penyakit yang berpusat pada otak. Namun, penelitian terbaru semakin menunjukkan bahwa kondisi yang mempengaruhi organ lain dapat meningkatkan risiko demensia secara signifikan. Tinjauan sistematis baru, yang dilakukan oleh para ilmuwan di Universitas Sun Yat-sen di Tiongkok, mengidentifikasi 16 penyakit perifer yang berkorelasi kuat dengan gangguan kognitif.

Lima penyebab utama adalah:

  • Penyakit gusi (periodontitis)
  • Penyakit hati kronis
  • Gangguan pendengaran
  • Kehilangan penglihatan
  • Diabetes tipe 2

Kondisi terkait lainnya termasuk osteoartritis, penyakit ginjal, penyakit kardiovaskular, COPD, dan gangguan inflamasi seperti multiple sclerosis. Meskipun kajian ini tidak membuktikan adanya hubungan sebab akibat secara langsung, korelasi yang kuat menunjukkan bahwa mencegah atau menangani penyakit perifer ini dapat menurunkan kejadian demensia.

Mengapa Ini Penting: Melampaui Pandangan “Berpusat pada Otak”.

Hubungan antara kesehatan perifer dan demensia bukanlah suatu kebetulan. Otak, meskipun sering dipandang terisolasi, sangat terhubung dengan bagian tubuh lainnya melalui poros otak-usus, poros otak-tulang, poros kekebalan otak, dan masih banyak lagi. Jalur ini memungkinkan peradangan sistemik, disfungsi metabolisme, dan proses lain berdampak langsung pada kesehatan otak.

“Secara keseluruhan, wawasan ini menggambarkan beban multidimensi demensia yang berkaitan dengan berbagai penyakit perifer pada tingkat populasi,” tulis penulis ulasan, “menyoroti peran potensial fungsi organ perifer dalam kesehatan otak dan kemungkinan untuk menargetkan penyakit perifer yang berpengaruh tersebut untuk mengurangi beban demensia yang semakin meningkat.”

Kesadaran ini sangat penting karena banyak uji klinis obat demensia gagal karena hanya berfokus pada intervensi berbasis otak. Asumsi bahwa penurunan kognitif dimulai dan berakhir di otak mungkin membuat para peneliti mengabaikan target utama.

Pergeseran Perspektif: Dari Neurologis ke Sistemik

Teori-teori yang muncul saat ini menempatkan demensia tidak hanya sebagai kelainan neurologis, namun juga kelainan sistemik, yang berpotensi berakar pada disfungsi imunologis atau metabolik. Misalnya, beberapa ilmuwan, seperti Donald Weaver di Universitas Toronto, berpendapat bahwa Alzheimer mungkin merupakan kelainan imunologis pada intinya, yang mempengaruhi seluruh tubuh. Yang lain menyebutkan produksi energi yang salah di dalam sel sebagai akar penyebab masalah kognitif yang meluas.

Tinjauan tersebut juga menemukan bahwa kondisi seperti hipertensi, obesitas, kolesterol tinggi, depresi, dan penyakit tiroid memiliki hubungan yang lemah atau tidak signifikan terhadap risiko demensia. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan tersebut hanya terjadi pada kondisi sistemik tertentu, bukan pada kondisi kesehatan yang buruk secara keseluruhan.

Pada akhirnya, semakin banyak bukti yang menggarisbawahi bahwa otak bukanlah sebuah pulau. Untuk memerangi demensia secara efektif, para peneliti harus memperluas cakupan mereka dan mengatasi kesehatan periferal serta faktor neurologis. Pergeseran perspektif ini berpotensi membuka strategi pencegahan dan pengobatan yang lebih efektif.

Попередня статтяManajemen Superkomputer Iklim AS Dialihkan ke Operator Tidak Dikenal