Gurita Kawin “Sejauh Mungkin” Menggunakan Penginderaan Kimia

0
11

Para ilmuwan telah menemukan bahwa gurita jantan menggunakan lengan khusus, hectocotylus, untuk kawin, tidak dipandu oleh penglihatan tetapi oleh deteksi hormon betina. Adaptasi luar biasa ini memungkinkan mereka menemukan dan membuahi pasangannya bahkan dalam kegelapan total atau tanpa kontak visual langsung. Temuan yang dipublikasikan di Science ini mengubah pemahaman kita tentang reproduksi gurita dan evolusi sensorik.

Lengan Sensorik: Lebih Dari Sekadar Alat Kawin

Selama bertahun-tahun, para peneliti mengetahui gurita jantan mentransfer sperma menggunakan hectocotylus, namun bagaimana lengan ini menemukan targetnya masih menjadi misteri. Gurita sebagian besar adalah makhluk penyendiri, sehingga pertemuan jarak dekat jarang terjadi. Tim peneliti, yang dipimpin oleh Profesor Nicholas Bellono di Universitas Harvard, berhipotesis bahwa lengan harus berfungsi baik sebagai sensor dan organ kawin agar berhasil dalam interaksi yang jarang terjadi ini.

Untuk mengujinya, para ilmuwan merancang percobaan menggunakan gurita dua tempat California. Mereka memisahkan laki-laki dan perempuan di balik penghalang buram dengan lubang kecil untuk akses lengan. Tak disangka, sang jantan langsung menjulurkan hectocotylusnya melalui sebuah lubang yang terletak di saluran reproduksi betina, dan mulai kawin. Hal ini terjadi berulang kali, bahkan dalam kegelapan, membuktikan kemampuan lengan untuk bernavigasi tanpa penglihatan.

Progesteron sebagai Sinyal Kunci

Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa lengan gurita jantan sensitif terhadap progesteron, hormon yang dilepaskan gurita betina saat siap kawin. Ketika hektocotyli yang diamputasi terkena progesteron, mereka menunjukkan gerakan, sementara hormon lain tidak berpengaruh.

Para peneliti kemudian mengisolasi hormon tersebut dalam sebuah tabung dan menempatkannya di belakang penghalang. Jantan siap bereksplorasi dan mencoba kawin dengan tabung berisi progesteron, membuktikan bahwa sinyal kimia saja sudah cukup untuk memicu perilaku kawin. Hal ini menunjukkan bahwa gurita sangat bergantung pada isyarat feromon dalam reproduksi.

Evolusi Cepat Reseptor Sensorik

Studi ini juga mengidentifikasi reseptor khusus pada ujung hektocotylus yang berikatan dengan progesteron. Reseptor ini tampaknya telah berevolusi dengan cepat di dalam cephalopoda, menunjukkan bahwa spesies yang berbeda mungkin telah disesuaikan untuk mendeteksi sinyal kimia unik untuk kompatibilitas reproduksi.

“Hal ini meningkatkan kemungkinan menarik bahwa isyarat kimia ini membantu mengkodekan identitas jenis kelamin dan spesies,” jelas Bellono. Hal ini dapat menjelaskan bagaimana spesies mempertahankan hambatan reproduksi atau, sebaliknya, bagaimana perkawinan silang menyebabkan munculnya spesies baru.

Penemuan Tidak Sengaja

Khususnya, para peneliti menemukan penemuan ini saat mempelajari perilaku kawin gurita di laboratorium. Tujuan awalnya hanyalah untuk mengamati upaya kawin, tetapi hewan-hewan tersebut mengungkapkan fungsi sensorik lengan melalui perilaku mereka.

Temuan ini menggarisbawahi pentingnya observasi dalam penelitian ilmiah. Studi ini tidak hanya menjelaskan reproduksi gurita tetapi juga menyoroti bagaimana sistem sensorik berevolusi untuk memenuhi tantangan reproduksi pada spesies soliter.

Kesimpulannya, gurita jantan telah mengembangkan metode canggih untuk kawin dalam jarak dekat, dipandu oleh deteksi hormon betina. Adaptasi ini menggarisbawahi kemampuan sensorik yang luar biasa dari makhluk-makhluk ini dan memberikan wawasan tentang evolusi hambatan reproduksi dan identitas spesies.

Попередня статтяArtemis II: Kemanusiaan Kembali ke Orbit Bulan