Fisika teoretis adalah pencarian pertanyaan “mengapa” yang paling utama. Ia berupaya menyatukan kekuatan fundamental alam ke dalam kerangka tunggal yang elegan. Namun, menurut Peraih Nobel David Gross, hambatan terbesar untuk menyelesaikan teka-teki ilmiah besar ini mungkin bukan kompleksitas matematika atau keterbatasan teknologi, namun rapuhnya kelangsungan hidup umat manusia itu sendiri.
Dari Quark ke Model Standar
Perjalanan David Gross menuju inti materi dimulai dengan sebuah buku yang ditandatangani oleh Albert Einstein. Ketertarikan awal tersebut membawanya pada salah satu terobosan paling signifikan dalam fisika modern: penemuan kebebasan asimtotik.
Pada awal tahun 1970-an, fisikawan dibingungkan oleh perilaku quark—partikel kecil penyusun proton dan neutron. Logika tradisional menyatakan bahwa ketika partikel semakin mendekat, interaksinya akan semakin kuat, namun eksperimen menunjukkan sebaliknya. Gross, bersama Frank Wilczek dan H. David Politzer, membuktikan bahwa gaya antar quark sebenarnya melemah saat mereka mendekat dan menguat saat mereka menjauh.
Penemuan ini merupakan landasan dalam membangun Model Standar, kerangka teoritis yang menjelaskan tiga dari empat kekuatan fundamental:
– Kekuatan nuklir yang kuat
– Kekuatan nuklir yang lemah
– Elektromagnetisme
Bagian yang Hilang: Gravitasi dan Skala Planck
Meskipun Model Standar sangat sukses, namun model ini belum lengkap. Ia gagal memperhitungkan gravitasi, gaya yang mengatur kosmos dalam skala besar. Untuk menyatukan gravitasi dengan tiga gaya lainnya, fisikawan mencari teori string.
Tantangannya terletak pada skala masalahnya. Untuk menguji teori-teori ini, para ilmuwan harus menyelidiki skala Planck —sebuah wilayah yang sangat kecil ($1,6 \kali 10^{-35}$ meter) sehingga konsep kita tentang “ruang” dan “waktu” mungkin tidak lagi berfungsi seperti yang kita pahami.
“Ruang angkasa adalah gambaran dunia yang kita kembangkan saat masih bayi untuk mendapatkan mainan atau makanan,” kata Gross. “Ini mungkin bukan penjelasan yang tepat; mungkin hanya gagasan kasar atau perkiraan.”
Pembuktian teori-teori ini memerlukan tingkat energi yang jauh melampaui jangkauan teknologi kita saat ini, seperti bagaimana para ilmuwan abad ke-19 harus “menebak” keberadaan atom jauh sebelum mereka benar-benar dapat melihatnya.
Ancaman Eksistensial: Jangka Waktu 35 Tahun?
Sementara komunitas ilmiah berupaya mewujudkan “Teori Segalanya”, Gross semakin disibukkan dengan masalah yang jauh lebih mendesak: kelangsungan hidup manusia.
Dia menawarkan perkiraan matematis yang bijaksana mengenai risiko konflik nuklir. Berdasarkan iklim geopolitik saat ini—yang ditandai dengan runtuhnya perjanjian pengendalian senjata dan munculnya berbagai kekuatan nuklir—Gross memperkirakan 2% kemungkinan terjadinya perang nuklir setiap tahunnya.
Dengan menggunakan perhitungan yang mirip dengan “waktu paruh” bahan radioaktif, risiko 2% ini menunjukkan perkiraan rentang kelangsungan hidup manusia hanya sekitar 35 tahun.
Faktor yang meningkatkan risiko:
- Ketidakstabilan Geopolitik: Transisi dari dunia bipolar (dua kekuatan) ke dunia multipolar yang melibatkan sembilan kekuatan nuklir membuat diplomasi menjadi jauh lebih kompleks.
- Faktor AI: Integrasi Kecerdasan Buatan ke dalam sistem komando dan kendali nuklir menimbulkan “halusinasi” dan pengambilan keputusan cepat yang dapat mengabaikan pertimbangan manusia.
- Erosi Norma: Hilangnya perjanjian pengendalian senjata strategis telah meninggalkan dunia dalam perlombaan senjata baru yang tidak dapat diprediksi.
Paradoks Fermi dan “Filter Hebat”
Kekhawatiran Gross menyentuh pertanyaan mendalam dalam astronomi yang dikenal sebagai Paradoks Fermi : Jika alam semesta begitu luas, mengapa kita belum mendengar kabar dari peradaban cerdas lainnya?
Gross memberikan jawaban yang suram: mungkin peradaban maju mencapai titik kecanggihan teknologi di mana mereka pasti akan menghancurkan diri mereka sendiri. Dalam pandangan ini, “Filter Besar”—penghalang yang mencegah kehidupan menjadi antarbintang—adalah kecenderungan spesies cerdas untuk mengembangkan senjata pemusnah massal sebelum mereka mencapai stabilitas jangka panjang.
Kesimpulan
Upaya untuk menyatukan hukum fisika adalah perlombaan untuk memahami asal usul alam semesta, namun David Gross memperingatkan bahwa umat manusia mungkin tidak akan bertahan cukup lama untuk mencapai garis finis. Kelangsungan hidup spesies kita mungkin tidak terlalu bergantung pada kemampuan kita memecahkan persamaan, melainkan lebih bergantung pada kemampuan kita mengelola teknologi yang kita ciptakan.





















