Prospek untuk melihat elang emas terbang di atas lanskap Inggris sekali lagi berubah dari impian konservasi menjadi kenyataan yang didanai. Menyusul persetujuan pemerintah untuk memberikan dana tambahan sebesar £1 juta, sebuah program besar sedang dipersiapkan untuk memperkenalkan kembali burung pemangsa ikonik tersebut, dengan pelepasliaran remaja pertama berpotensi terjadi pada awal musim panas 2027**.
Meskipun berita ini mendapat sambutan hangat dari badan amal satwa liar, berita ini juga memicu perdebatan mengenai apakah pemerintah bertindak terlalu cepat—dan apakah masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut akan benar-benar didengarkan.
Menemukan Rumah di Utara
Sebuah studi yang dilakukan oleh Forestry England telah mengidentifikasi delapan wilayah potensial di utara Inggris yang cocok untuk kembalinya elang. Ini termasuk:
– Pennines Utara
– Cheviot di Northumberland
– Distrik Danau
Pemilihan situs ini tidak sembarangan; kawasan ini menawarkan bentang alam yang luas dan terjal yang dibutuhkan oleh predator puncak ini. Namun, penelitian ini juga menyoroti tantangan signifikan: aktivitas manusia. Di kawasan populer seperti Lake District, tingginya tingkat rekreasi di dekat kota seperti Ambleside dan Keswick dapat mengganggu peluang bersarang, karena elang emas memerlukan habitat yang tenang dan tidak terganggu untuk berkembang biak.
Pemangku Kepentingan: Pemilik Tanah vs. Penggiat Konservasi
Keberhasilan reintroduksi ini tidak hanya bergantung pada biologi; itu tergantung pada izin sosial. Karena lokasi pelepasliaran yang diusulkan sebagian besar terdiri dari tegalan dan perkebunan yang dikelola, proyek ini berada di persimpangan antara konservasi dan penggunaan lahan tradisional.
“Jika Anda ingin memenangkan hati dan pikiran orang-orang di lapangan, Anda harus berbicara dengan mereka terlebih dahulu,” Andrew Gilruth, CEO Moorland Association memperingatkan.
Ketegangan ini berakar pada sejarah spesies. Elang emas mengalami kepunahan di Inggris dan Wales pada pertengahan abad ke-19, sebagian besar disebabkan oleh penganiayaan oleh mereka yang memandang mereka sebagai ancaman terhadap ternak dan burung buruan. Untuk menghindari terulangnya sejarah serupa, para ahli berpendapat bahwa pendekatan “top-down” tidak akan berhasil.
Poin-poin utama perdebatan meliputi:
* Pengelolaan Lahan: Sebagian besar habitat yang sesuai digunakan untuk penembakan burung belibis. Karena belibis merah merupakan sumber makanan utama elang emas, kehadiran burung tersebut dapat mengubah dinamika olahraga lapangan tradisional.
* Risiko “Tokenisme”: Beberapa pemilik tanah khawatir bahwa komitmen finansial pemerintah menunjukkan bahwa keputusan sudah diambil, sehingga berpotensi menjadikan konsultasi publik mendatang hanya sekedar formalitas dan bukan dialog sejati.
* Keterlibatan Komunitas: Dr. Cat Barlow dari Restoring Upland Nature menekankan bahwa prosesnya harus lambat dan inklusif, melibatkan penjaga hewan, petani, dan kehutanan untuk memastikan komunitas lokal berada di balik hal tersebut.
Kemajuan Alami?
Meskipun terdapat perselisihan, ada rasa keniscayaan dan harapan di kalangan pelestari lingkungan. Di Northumberland, tempat elang terlihat melintas, Northumberland Wildlife Trust memandang pelepasliaran kembali sebagai langkah alami dalam pemulihan ekologi. Hal serupa juga terjadi di Cumbria, terdapat “ingatan komunitas” terhadap burung-burung tersebut, yang diyakini oleh para pendukungnya akan membuat kembalinya mereka lebih selaras secara budaya.
Tujuan utamanya ambisius: Dr. Barlow berharap, seiring berjalannya waktu, elang emas akan terbentuk di delapan wilayah yang sesuai dan teridentifikasi, sehingga menandai tonggak sejarah besar dalam pemulihan alam di Inggris.
Kesimpulan
Pelepasliaran kembali elang emas merupakan momen penting bagi keanekaragaman hayati Inggris, namun keberhasilannya bergantung pada keseimbangan kebutuhan ekologis dengan kepedulian praktis komunitas pertanian dan penembakan. Konsultasi yang akan datang akan menjadi faktor penentu apakah burung-burung ini akan kembali ke wilayah yang ramah atau wilayah yang diperebutkan.




















